ARUS BALIK, (H) ARUS BAIK! (Mengkaji Mudik Dalam Persfektif Teori Kebutuhan Abraham Maslow)

Oleh: Rizal Nugra Wijaya, S.IK.***

Menurut Teori Kebutuhan Abraham Maslow (1970) bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda. Maslow (1970) telah meneliti dan menyusun kebutuhan manusia dalam lima tingkat yang akan dicapai secara hirarkis

Teori hierarki kebutuhan Maslow melihat bahwa individu mempunyai tahap kebutuhan dasar yang akan dicapai dalam kehidupannya. Tahap kebutuhan itu adalah fisiologis, keamanan dan kasih sayang, sosial dan afiliasi, serta harga diri dan aktualisasi diri.

Dari dasar teori kebutuhan maslow itu penulis akan mengurai dalam konteks pemudik lebaran tahun 2022 tentang bagaimana mengaktualisasikan kebutuhan tersebut tetap tegar berdiri diatas papan keamanan dan kesehatan bersama

Jamak diketahui bahwa tagline mudik pemerintah di tahun 2022 ini adalah “mudik aman dan sehat” sebagai pegangan, arahan bahkan pedoman bagi setiap stakeholders baik dilevel nasional maupun daerah agar para pemudik tetap aman dalam perjalanan sehat dalam berlebaran dan bebas pandemi ketika balik dari kampung halaman.

Kebutuhan Fisiologis (Pysiological Needs)

Tidak ada orang yang dalam kondisi normal tidak membutuhkan pakaian yang layak, makanan yang enak, istirahat yang nyaman dan kesehatan yang terjamin, semua membutuhkan itu kecuali orang yang sudah kehilangan kewarasannya.

Kyai, Budayawan, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) kerap mengatakan di beberapa kajiannya bahwa substansi dari kebutuhan manusia untuk makan adalah rasa kenyang dan hilangnya lapar, bukan pada jenis makanan dan minumannya dan bukan tergantung pada tempat dan cara penyajiannya, namun lagi lagi substansinya adalah perut kenyang atau terisi. Artinya pentingnya mementingkan “isi” bukan bungkus, mementingkan tujuan primer bukan tujuan sekunder

Lantaran kebutuhan fisiologis pemudik 2022 telah dimanjakan dengan berbagai macam fasilitas di rest area dan pos pelayanan kepolisian di beberapa titik di setiap perlintasan baik jalur nasional maupun propinsi, mulai dari menu berbuka, fasilitas kesehatan seperti pijat hingga bengkel, dan semuanya diberikan secara gratis alias cuma-cuma

Seyogyanya pemudik pun memanfaatkan segala fasilitas yang ada menemui substansi dari kebutuhan fisiologis bukan mengejar sesuatu yang unsubstansial apapun itu bentuknya sehingga antara pemudik dan pemerintah terutama Polri ada komunikasi berkualitas dengan tingginya intensitas singgah nya para pemudik di pos pelayanan Polri baik mudik maupun saat arus balik dari mudik nantinya.

Kebutuhan Keamanan (Safety Needs)

Kebutuhan keamanan merupakan kebutuhan tingkat kedua yang harus dipenuhi setelah kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan-kebutuhan yang termasuk dalam kebutuhan keamanan adalah kestabilan, ketergantungan, perlindungan, bebas dari rasa takut dan ancaman.

Pada konteks ini gayung bersambut dengan operasi kepolisian yang bersandi operasi ketupat idul fitri 2022 yang dimulai sejak 28 april hingga 9 mei 2022

Seperti yang diberitakan oleh tempo.co Wakapolri Komjen Gatot Edi Pramono menyampaikan bahwa Polri memastikan tidak ada tilang selama operasi ketupat, dan Polri telah menyiapkan pos pengamanan, pos pelayanan dan pos terpadu termasuk disediakannya gerai vaksin booster di setiap pos tersebut

Lebih lanjut Wakapolri menyampaikan bahwa dalam operasi ketupat 2022 ini Polri telah menyiapkan 144.392 personel gabungan dari Polri, TNI, kementrian dan unsur lainnya untuk memenuhi kebutuhan mudik masyarakat.

Inilah bentuk kehadiran Negara ditengah-tengah masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan kedua masyarakat yaitu kebutuhan akan keamanan (Safety Needs) dan menegaskan kembali “tagline” mudik aman dan sehat

Jika negara telah memberikan fasilitas keamanan dan kenyamanan bagi para pemudik, maka semestinya para pemudik harus menyediakan waktu untuk dirinya, menurunkan ego perjalanan dengan meningkatkan intensitasnya memanfaatkan fasilitas (pos pengamanan) pospam atau posyan (pos pelayanan) yang telah disediakan demi kemanan bersama.

Karena dengan pemaksimalan memanfaatkan setiap pos yan yang telah disediakan oleh kepolisian akan mampu mencegah jumlah kecelakaan atau fatalitas kecelakan para pemudik dan gagasan arus balik para pemudik menjadi arus baik para pemudik pun terwujud nyata

Kebutuhan Sosial (Social and Belongingness Needs)

Setelah kedua kebutuhan tadi dicapai, maka timbul kebutuhan akan sosial dan kasih sayang (social and belongingness). Yaitu kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, bersilaturahim dan membangun relasi yang baik

Nah, Mudik adalah bagian dari (social and belongingness) bahwa setiap indifidu memerlukan kualitas komunikasi dan silaturahmi, lebih lebih dengan orang orang terdekat, seperti orang tua, kerabat dan sahabat, apalagi dunia dan Indonesia baru saja diterpa serangan pandemi sejak tahun 2020. Saat ini walau trend tingkat positif covid 19 menurun seyogyanya para pemudik memiliki dan menguatkan kesadaran diri akan pentingnya protokol kesehatan disaat bersilaturahmi lebaran, bekumpul dan angjangsana selama di kampung halaman atau balik ke kota nantinya.

Jangan sampai lantaran pembangkangan atas prokes malah menciptakan pandemi gelombang berikutnya yang justru malah menghalangi semua orang untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Dan tagline bersama “mudik aman dan sehat” pun gagal Nauuzubillah!.

Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem Needs)

Adalah kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri. Di kampung halaman para pemudik tidak jarang menjadi buah bibir bagi keluarga dan kerabatnya, lantaran para pemudik bukan hanya sekedar lepas kangen kepada orang tuanya, namun ada hal yang lebih unik dan sudah menjadi budaya yang amat sangat kental di Indonesia seolah memberi “stempel” tertentu kepada pemudik, apalagi mereka yang dalam kategori “perantau sukses”

Kedatangannya bisa menjadi penyebab bisa menjadi akibat, penyebab dirinya semakin sukses lantaran kerap menyedekahkan separuh dari hasil kerjanya saat berlebaran di kampung, dan bisa jadi akibat, karena story kesuksesasannya justru menjadi inspirasi kerabat sekitar kampung halamannya untuk mengikuti jejak langkahnya

Tak jarang setelah musim lebaran gelombang migrasi besar-besaran pun terjadi, orang-orang dari kampung yang mencoba mengadu nasib ke kota lantaran menganggap di kampung tidak ada kerjaan dan penghasilan mereka ingin menduplikasi kesuksesan saudara saudaranya yang telah mencobanya duluan.

Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem Needs) Jika salah mengaplikasikannya akan menjadi boomerang nantinya, dan stakeholders pun perlu mewaspadainya disituasi Negara masih perang melawan covid19, bagaimana cara mewaspadainya? Setidaknya pemudik yang dianggap sukses tidak mengiming-imingi kerabatnya untuk ikut ke kota, pemudik harus mampu membangun paradigma kerabatnya dikampung bagaimana dapat membangun desa dan menghebatkan desa dari modal yang ada

Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self Actualization Needs)

Pada teori Abraham Maslow yang terakhir ini setiap individu dalam memenuhi kebutuhan ini sangat berbeda satu sama lain, secara teori masing-masing ingin mewujudkan diri sebagai seorang yang mempunyai kemampuan yang unik.

Menurut hemat penulis, aktualisasi diri para mudikers adalah dengan ikut menjadi relawan (Voulenteer) penekanan angka covid19 membangun kesan dan image baik terhadap segala program pemerintah dalam pencegahan penyegaran covid 19 termasuk program mudik gratis, operasi ketupat, pos pos pelayanan dan pengamanan di seluruh Indonesia tidak sia-sia

Anggaran triliunan yang dikeluarkan pemerintah untuk para mudikers tidak sekedar mudik aman dan sehat namun lebih dari itu yaitu mudik aman, sehat, dan manfaat. inilah gagasan besar para “mudikers” ‘anfauhum linnaass dan betul-betul terwujud arus balik menjadi arus baik para pemudik.

***Penulis Adalah Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Bojonegoro Polda Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *