Resep Kaya Raya Mati Masuk Syurga Ala Owner Berkah Zam Zam

(Mabes Media, Situbondo) Tidak ada angka sepuluh yang tidak dimulai dari nol, baru kemudian 1, 2, 3 dan seterusnya. Demikian juga kehidupan, tak jarang orang memulai kehidupannya dari ‘nol’ bahkan dimulai dari minus sepuluh, Sembilan, atau delapan. Semua berproses menuju titik pencapaian yang telah di pancangkan masing-masing.

Pastinya setiap orang pun memiliki indikator kesuksesan yang berbeda-beda, tergantung siapa kawan dan bagaimana lingkungannya, tergantung apa bacaan dan referensi hidupnya.

Bicara tentang perempuan “sukses” Dalam data Forbes yang dirilis pada Kamis, 16 Desember 2021, disebutkan Rina Ciputra Sastrawinata dan Junita Ciputra berada di posisi ke-26 orang terkaya di Indonesia. Adapun keluarga Ciputra memiliki kekayaan mencapai US$ 1,65 miliar atau berkisar Rp 23,59 triliun Berikutnya, ada Marina Budiman yang berada di peringkat ke-30 orang terkaya di Indonesia. Total kekayaannya mencapai US$ 1,5 miliar atau Rp 21,45 triliun.

Marina Budiman adalah Co-Founder dan Presiden Komisaris perusahaan data center PT DCI Indonesia Tbk. (DCII). Lalu di posisi ke-44 dari 50 Orang Terkaya versi Forbes ini terdapat Arini Subianto. Total kekayaan Arini mencapai US$ 975 miliar atau Rp 13,94 triliun. Arini mengambil alih perusahaan ayahnya, konglomerat Benny Subianto, di awal 2017.

Sebagai anak perempuan tertua, ia saat ini menjabat sebagai Presiden Direktur Persada Capital Investama, perusahaan induk yang bergerak di berbagai sektor, seperti kayu, minyak sawit, karet, dan batubara. Yang terakhir, adalah Kartini Muljadi, yang menempati posisi 50 dari 50 orang terkaya di Indonesia ini memiliki total kekayaan mencapai Rp 9,93 triliun. Kartini Muljadi dan anaknya memiliki Tempo Grup yang bergerak di bidang kesehatan, yakni perusahaan terbesarnya adalah PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSCP) yang membuat obat dan barang konsumer.

Itu catatan perempuan sukses menjadi terkaya di dunia, dan mereka ternyata semua mendapatkan kekayaan dari warisan perusahaan orang tuanya alias sudah kaya sejak lahir

Namun berbeda dengan dengan sosok perempuan yang satu ini? Perempuan serba bisa yang jago jualan ini bangkit dan berlari setelah dirinya melewati masa-masa mendung pada cuaca ekonominya. Bahkan pandemi pun seolah tak mampu memendungkan cuaca ekonominya.

Baginya marketing itu tugasnya menjual barang yang tidak laku dipasaran, kalau laku masih ada yang mau dijual,  tidak butuh marketing lagi, karena yang jualan cukup bos nya aja gak butuh marketing lagi di era digital gini, katanya.

Eka Agustin Trisanti, adalah sosok pengusaha sukses dari Situbondo. Pemilik rumah kiswah ini lahir 45 tahun silam itu terbukti menjadi pengusaha sukses sejak usia 35 tahun, dan bukan dari warisan atau turunan, jatuh bangun dikejar rentenir pun sudah dialaminya, bahkan dalam cerita para kerabatnya pernah terjadi ‘penagihan’ yang sangat dramatis sekali, karena berhutang tidak berani buka pintu rumah walau digedor berulang kali oleh debt collector. Dirinya pun hanya berdoa dan membaca ribuan sholawat.

Bunda Eka sapaan akrabnya saat ini menjadi owner PT Berkah Zam Zam Wisata sebuah perusahaan jasa perjalanan haji, umroh dan tour religi keliling dunia. Eka Agustin Trisanti berhasil membangun kepercayaan customer bahwa umroh dimasa pandemi tetap aman dan nyaman.

Konsep ‘karantina nikmat’ yang digagas olehnya ditiru oleh banyak travel lain, keraguan dan ketakutan jamaah umroh saat karantina menjadi pudar, jamaah semakin yakin dan berani bahwa selama karantina mereka terdampingi dengan baik. Keberhasilannya ditorehkan dengan mengispirasi banyak orang untuk berangkat ke Baitullah.

Dari pantauan media ini selama pandemi pada gelombang pertama, di saat banyak travel tutup gerbang PT Berkah Zam Zam Wisata berhasil menggaet lebih dari 5000 jamaah untuk bersiap umroh, haji dan tour religi keliling dunia.

 

“ya, kami saat ini memberangkatkan jamaah hamper seminggu 2x keberangkatan, Alhamdulillah kepercayaan jamaah tinggi kepada kami, apalagi aturan terbaru tanpa test pcr dan karantina Cuma sehari setelah umroh” jelasnya

Saat ditanya apa resepnya? Perempuan yang bersuamikan anggota TNI tersebut mengatakan salah satu  resepnya adalah ‘Trust’ yaitu kepercayaan, sekuat mungkin membangun benteng kepercayaan yang tidak akan pernah luntur dan roboh tentang service excellent dihidapan customer

“bagi saya yang terpenting adalah trust, membangun kepercayaan yang terukur, baik kepercayaan dihadapan para customer maupun dihadapan para agen atau pensyiar” tukasnya

Bukan hanya itu perempuan yang lahir di bulan agustus ini juga membocorkan resep suksesnya yaitu sesering mungkin  melakukan sedekah ekstrim, sedekah diluar nalar, sedekah yang tidak rasional.

Sebagai contoh sedekah ekstrem yang dilakukan oleh Eka Trisanti adalah dengan menutup hutang beberapa sahabatnya yang bahkan nilainya miliaran rupiah. Hal itu disampaikan oleh kerabatnya, Ce Vonny (47th) muallaf 10 tahun lalu itu menyaksikan langsung sedekah ekstrem sang pemilik PT Berkah Zam Zam Wisata.

“7 tahun lalu saya pernah berhutang lebih dari 2 miliar karena salah perhitungan dalam sebuah bisnis, namun Allah mengirim malaikatnya yang bernama Eka Agustin yang membantu saya menyelesaikan hutang-hutang saya” tandasnya mengenang masa lalu

Imran Rosadi juga menuturkan hal serupa, sedekah ekstrem yang sering dilakukan Eka Agustin saat ini adalah mengumroh kan gratis guru ngaji dan marbot masjid

“saya banyak belajar ilmu marketing dari Bunda Eka, dan ternyata jualan yang paling enak adalah jualan jasa perjalanan dan pelayanan menuju baitullah, berkah dan manfaat” tukasnya

Ketika ditanya berapa kekayaan sang pemilik PT Berkah Zam Zam Wisata? Semua kerabatnya tak ada yang bisa menjawab, sang owner pun ketika ditelpon jawabanya hanya begini;

“kekayaan bagi saya adalah ketika saya mampu mengkayakan orang lain, yang miskin bisa bangkit, yang gagal bisa maju, yang bangkrut bisa melaju surut, dan pastinya kekayaan mereka bermanfaat untuk lingkungan di sekitarnya”

Semoga cerita Bunda Eka menjadi inspirasi dan motivasi untuk semua perempuan di Indonesia, bahwa sukses adalah quality, bukan kuantiti. (*Fadli/dbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed