Siapkan Jumat Berkah Aktifis PMII Di Jambret, Kejar Jambret Nyawa Melayang, Taggar Kapolrestabes SBY Out Rame di Medsos

(Mabes Media, SBY) Setahun lagi, semestinya Maya Dwi Ramadhani mengenakan toga. Wisuda dari salah satu kampus terbaik di Surabaya. Univesitas Negeri Sunan Ampel (UINSA). Maya sudah semester enam. Normalnya, semester tujuh sudah ujian skripsi dan semester delapan wisuda. Tentu, orang tuanya pun tersenyum bangga.

Namun, Jumat (24/5) dini hari, nyawa gadis berusia 21 tahun itu terenggut. Maya menjadi korban kecelakaan di Jalan Semarang, Surabaya. Saat berkendara motor di Jalan Arjuna pada Kamis (23/5) malam, sekitar pukul 23.00 WIB, tas cangklong Maya dijambret. Lalu, Maya berupaya mengejarnya.

Nahas, motor Maya oleng. Hilang kendali. Tubuh perempuan itu terpelanting ke badan jalan. Dari arah berlawanan, melintas kendaraan. Dan, braaak! Roda kendaraan itu melindasnya. Warga dan pengendara sudah bergegas memberikan pertolongan. Dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Takdir berkehendak lain. Maya mengembuskan nafas terakhirnya.

Kepergian Maya, tidak hanya mengundang pilu bagi keluarganya, yang tinggal di kawasan Tambak Dalam, Kota Surabaya. Bayang-bayang prosesi wisuda itu kini tinggal mimpi. Mendung duka juga menggelayut tebal di atas kampus UINSA. Di akun media sosial, UINSA turut menyampaikan duka cita atas meninggalnya Maya.

Terlebih, bagi para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mereka turut berduka mendalam. Maklum, Maya adalah salah seorang kader terbaik PMII di tingkat rayon Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Para aktivis organisasi ekstrakampus NU itu juga geram dengan kebiadaban pelaku kejahatan hingga membuat nyawa Maya terenggut.

Farid Alfian, ketua Rayon PMII FDK UINSA, menceritakan, almarhumah dikenal sebagai kader yang baik dan aktif berorganisasi. Tidak hanya di PMII, melainkan juga terpilih sebagai wakil ketua Himpunan Mahasiswa Prodi (Himaprodi) Manajemen Dakwah, dan di Ikatan Mahasiswa Madura. Di tengah kesibukannya kuliah yang juga bekerja di sebuah minimarket, Maya selalu menyempatkan diri di organisasi.

‘’Sungguh kami merasa kehilangan dengan sahabat sekaligus kader terbaik. Semoga almarhumah husnul khatimah, Semua dosa diampuni dan amal baiknya diterima Allah SWT, surge balasannya,’’ ujar Alfian ketika dihubungi KabarBaik.co, Minggu (26/5) siang.
Alfian menambahkan, Maya juga dikenal sebagai sosok dengan nilai sosial tinggi.

Setiap Jumat, memiliki program Jumat berkah. Berbagi makanan dan minuman untuk sesame. Nah, malam itu Maya hendak pulang dari kampus UINSA di Wonocolo. Sebelum pulang, Maya janjian COD untuk kebutuhan Jumat Berkah itu di Jalan Arjuna.

‘’Ternyata terjadi peristiwa (penjambretan, Red) itu. Lalu, Maya berupaya mengejar pelaku dan kecelakaan di Jalan Semarang. Kemudian dibawa ke RSUD dr Soetomo, dinyatakan meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 01.30 WIB,’’ katanya lirih.

Bersama perwakilan keluarga, Alfian mengaku sudah membuat laporan kejadian itu ke Polsek Sawahan. Dari informasi dan CCTV, pelaku penjambretan itu dua orang. ‘’Kami meminta agar pihak kepolisian mengusut tuntas perkara ini. Kami bersama sahabat-sahabat PMII Surabaya memberikan waktu 3×24 jam. Kalau tidak progres, kami siap melakukan gerakan,’’ tegasnya.

Maya di kenal santri. Dari keluarga sederhana. Ibunya pedagang di Pasar Tembok Dukuh. Selepas Subuh, Maya selalu rutin mengangatkan ibunya ke pasar. Sebab, ayahnya sudah lama terdera sakit.
Tidak lama setelah kepergian Maya, tagar Pray for Maya pun beredar di media sosial dan grup WhatsApp.

Termasuk tagar Kapolrestabes Surabaya Out. Bisa jadi ini wujud reaksi para mahasiswa dan masyaeakat yang menggantungkan harapan agar Kota Surabaya benar-benar aman dan nyaman, tidak sekadar slogan.
Ketua PMII Kota Surabaya Husein menegaskan, pihaknya akan mengawal perkara tersebut sampai tuntas. “LBH (Lembaga Bantuan Hukum) kami sudah bergerak melakukan pendampingan,” ujarnya.

Kisah pilu tersebut juga sampai terdengar ke telinga Anggota MPR RI Ahmad Nawardi. Senator yang juga alumnus UINSA itu juga mendesak agar pihak kepolisian menangkap pelaku secepatnya. ‘’Insya Allah, saya akan menemui Pak Kapolrestabes Surabaya. Kota Surabaya harus aman dan nyaman. Tindak kejahatan apapun tidak boleh dibiarkan,’’ ujar anggota DPD RI dari Jawa Timur itu. (*DbS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *